Selasa, 30 April 2019

Idealis Nan Berbeda, Sate Jogja Ini Jadi Buronan Turis Mancanegara!

Sate Ratu Buronan Turis Mancanegara (Dok.Pribadi)
Menjadi Indonesia, memang menjadi kita
Menjunjung tradisi dan resep nusantara
Memelihara selera dan citarasa
Menjadikannya mendunia

Berkesempatan untuk bertemu orang-orang inovatif dan kreatif adalah salah satu keuntungan menjadi blogger. Mereka tidak sungkan untuk berbagi kisah dan perjalanan inspiratif dalam menemukan suatu kehidupan baru dan jati diri. Membuka cakrawala dan ilmu baru.

Pertemuan kami para blogger dengan salah satu orang inovatif dan kreatif terjadi pada suatu sore malam minggu pada pertengahan bulan Agustus 2018. Kami diundang untuk singgah dan berbincang ringan ke kedai kulinernya, yang menjadi bagian dari Jogja Paradise Foodcourt, yaitu suatu tempat yang menyajikan berbagai kedai makanan di kota Jogja.

Bapak Budi,  atau bernama lengkap Fabian Budi Saputro, adalah mantan pegawai di dunia hiburan dan perhotelan. Beliau cukup lama berkecimpung di dunia tersebut selama kurang lebih 20 tahun. Seiring dengan berjalannya waktu, beliau akhirnya  menemukan suatu tantangan dalam dirinya dan memutuskan untuk mengakhiri masa jenuh menjadi pegawai dengan mendirikan sebuah kedai kuliner. Dan kini, beliau menjadi pemilik dari kedai kuliner bernama SATE RATU! Oh, sate ya. Tapi ratunya itu apa? Ratunya sate, begitu?

Bermula Dari "Angkringan" Lho!

Kedai kuliner? Restokah? Tidak. Cafe? Bukan. Tapi angkringan. Bercanda. Eh, catat, ANGKRINGAN!. Lah, apa istimewanya? Di Jogja pun ribuan gerobak angkringan sudah tersebar dimana mana. Sudah banyak. Ada yang lain?

Loh, lain. Beliau mengklaim angkringannya beda dari yang lain. Pertama kali kedai kulinernya berdiri pada bulan Juli, 2015 dan berlokasi di pinggir Jalan Solo, Yogyakarta. Angkringan beliau bukan angkringan yang menjajakan barang konsinyering alias barang titipan dengan sistem bagi hasil, melainkan buatan sendiri. 

Karena buatan sendiri, beliau lantas membuat produk jajanan angkringan ini berkelas premium, karena taste yang diciptakan harus bagus dan memenuhi kedaiar rasa yang beliau inginkan. Bayangkan saja, ada 20 jenis sate yang beliau jajakan di angkringannya. Applaus deh ya! Hehe, banyak pilihan.

Sate Tanpa Bumbu Kacang, Idealisme Nan Berbeda

Tapi, kedai angkringan itu sudah berlalu bagi beliau. Kini, beliau memfokuskan diri dengan menu satenya dan berhasil menyulap angkringan menjadi kedai kuliner yang turut menghiasi wajah kuliner Jogja Paradise Foodcourt. Bermula menghuni kedai yang berada di posisi bagian teras foodcourt, kini beliau dapat menempati kedai yang berada di posisi ruang bagian dalam foodcourt, sehingga dapat mengekspose keasingannya sendiri. Asing, dalam artian kekhasan yang beliau ciptakan dari kedai kulinernya tersebut bahwa kedai kulinernya benar-benar berbeda dari yang lain.

Lalu, darimana nama kuliner SATE RATU? Ya, beliau menjelaskan arti nama uniknya tersebut. Sate, yang merupakan kuliner dari Jawa dan Ratu, yang memiliki taste eksklusif. Taste yang berbeda. Kualitas premium. Karena, lahir dari tangan seseorang yang inovatif dan kreatif. Dan Pak Budi itulah yang memiliki paten SATE RATU.

Sate Ratu Jogja (Dok.Pribadi)
Sate Ayam Merah (Dok.Pribadi)

Lalu, apa yang menjadi menu utama SATE RATU? Sate yang eksklusif, premium dan berbeda? Yang pertama adalah menu sate ayam merah. Sate ayam merah, merupakan sate yang berbalut bumbu tanpa kacang. Loh, kok bisa? Iya, inilah inovasi dari Pak Budi. 
Sate Ayam Merah merupakan sate yang dilumeri bumbu cabe merah yang berhasil meninggalkan warna merah berkesan "pedas". Sate identik dengan kecap juga bukan? Nah tuh! Pecinta pedas, come on deh! Hehe. 

Daging empuk, tidak alot dan matang luar maupun dalam. Sate Ayam Merah terjaga kesegarannya karena langsung turun dari hasil rendaman bumbu kurang lebih 3 jam lamanya dan tereksekusi mulus dari panggangan dengan arang yang berkobar! Mantaps!

Menu Lain, Ada Lilit (Ayam) Basah (Dok. Pribadi)
Menu Lain, Ada Lilit (Ayam) Basah (Dok. Pribadi)

Selain sate ayam merah, SATE RATU menyajikan menu pendamping berupa lilit (ayam) basah dan ceker tugel.  Lilit Basah adalah menu antisipatif dari Pak Budi ketika kehabisan stok sate ayam merah. Menu Lilit Basah ini juga tak kalah enaknya. Daging ayam yang sudah dicacah halus dibentuk keping kotak. Mudah digigit, mudah diiris oleh pisau sehingga langsung gampang dikunyah. Lumeran kuah santan kental ini makin menyatukan lidah dan dagingnya!
Untuk ceker tugel, bagi kompasianer yang penasaran disarankan untuk segera ke Jogja dan singgah ke kedai SATE RATU! Oh iya, Sate ayam merah, lilit basah dan ceker tugel sama sama dibanderol dengan harga Rp23.000 yang sudah lengkap dengan sepiring nasi. Terjangkau!

Dengan prinsip idealismenya itu, Pak Budi ingin agar sate ini bisa hadir untuk mewarnai keberagaman kuliner nusantara, sekaligus menjadi karya inovatifnya yang dinikmati oleh banyak orang.

Mendunia, Sate Ini Berstatus "Buronan"

Tak mengandalkan pengalaman dari dunia entertain dan hotel, pak budi mencoba berekasperimen melalui sistem marketing pada SATE RATU. Diakui bahwa Pak Budi tidak memperkenalkan jajanan kulinernya ini pada rekan dan kolega di lingkungan pekerjaannya terdahulu. Beliau ingin mengetahui bagaimana reaksi murni masyarakat setelah mencicipi SATE RATU.

Dan boom! Statistik yang dihasilkan setelah 2 tahun berjalan, ternyata SATE RATU berhasil menggaet pengunjung dari mancanegara. Sebanyak 30% dari total pengunjung merupakan turis mancanegara yang hadir dari berbagai belahan dunia. Tercatat, turis mancanegara tersebut berasal dari 60 negara berbeda. Padahal, bagi start food seperti SATE RATU, tentu tidak mudah menggaet pengunjung yang berasal dari luar negeri, bahkan dengan predikat kota Jogja yang notabene tidak setersohor Bali dan Lombok.

Owner Sate Ratu, Pak Budi dan Sang Istri (Dok.Pribadi)
Owner Sate Ratu, Pak Budi dan Istri (Dok.Pribadi)

Ketika saya tanya mengenai target khusus pengunjung turis mancanegara, Pak Budi justru tidak berpikir sejauh itu. Fenomena maraknya pengunjung wisatawan mancanegara rupanya terjadi secara alami begitu saja. Tanpa perhitungan sebelumnya. 
Beliau juga tidak melakukan promosi khusus untuk pangsa pasar seperti itu. Beliau mengaku bahwa turis mancanegara yang hadir akibat dari promosi mulut ke mulut saja. Berawal rekomendasi dari sopir hotel, jasa tour guide hingga teman senegara mereka yang pernah mencicipi langsung SATE RATU.

Karena rekomendasi itulah, Pak Budi kembali membuat langkah inovatif dengan menciptakan bumbu sate ayam merah yang dikemas dalam botol khusus bagi pengunjung yang ingin membuat sate ayam merah di rumah sendiri. Apalagi, banyak turis mancanegara yang ingin memberikan buah tangan kepada keluarga mereka. Mungkin saja, perlu waktu lama ya memboyong kerabat ke Indonesia agar bisa mencicipi sate ini! Fenomenal!

Dan menurut ilmu ekonomi pemasaran, fenomena saling merekomendasikan suatu produk, oleh pemakai produk dinamakan marketing by consument. Hal tersebut juga merupakan indikator kepuasan pelanggan. Maka, sudah tidak diragukan lagi ya, citarasa dari SATE RATU ini begitu mendunia!

Jejak Catatan Kesan Para Pengunjung SATE RATU dari para turis mancanegara (Dok.Pribadi)
Jejak Catatan Kesan Para Pengunjung SATE RATU dari para turis mancanegara (Dok.Pribadi)
Penghargaan vs Kepuasan diri
Sebelum menutup perjalanan inspiratifnya, Pak Budi membeberkan sedikit prestasi yang telah ia raih walalupun jajanan kulinernya itu belum lama menghiasi dunia kuliner nusantara. Mulai dari penghargaan dari sebuah situs penyedia jasa wisata, TRIP ADVISOR mengganjar 2 tahun berturut turut kepada sate ratu, yaitu tahun 2017 dan 2018 dengan meraih certificate of excellence kategori penyedia jasa kuliner. 

Kemudian, PT Unilever pun tak ketinggalan memberikan penghargaan kepada SATE RATU sebagai penerus warisan kuliner pada tahun 2018. Beberapa penghargaan lain yang tidak tercantum pada dinding kedai kuliner SATE RATU juga diceritakan oleh Pak Budi, dan merupakan suatu kehormatan bagi dirinya karena masih pemula dalam dunia kuliner.

Namun, bagi Pak Budi, beliau tidak harus menjadi juara dalam kompetisi-kompetisi kuliner yang diselenggarakan. Kemampuan untuk terus memberikan yang terbaik bagi pengunjung dan mampu menjaga keberlanjutan jajanan kulinernya, yakni SATE RATU adalah prioritas. Apalagi mampu menyajikan yang terbaik bagi masyarakat, melalui SATE RATU. Hal itu merupakan kepuasan dirinya. Sekaligus menjawab tantangan dalam dirinya saat menjadi pegawai.

Bila rasa nusantara saja sudah mendunia, apakah kita masih menyerbu kuliner yang ngehits tapi masih itu-itu aja?

Salam hangat kompasiana,

Artikel ini telah ditayangkan di blog akun kompasiana penulis pada 18 Agustus 2018 di www.kompasiana/devimeilana.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar