Sabtu, 02 Mei 2020

Menjadi Kartini Masa Depan, Meraih Estafet Bersenjatakan Pengetahuan

sumber: pixabay.com



Nelson Mandela, seorang tokoh pimimpin dari Afrika Selatan pernah berkata bahwa, "Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” atau, bila diterjemahkan mempunyai arti "Pendidikan adalah senjata paling kuat yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia". Dengan demikian, hanya dengan sebuah pendidikan, dunia dapat berubah. Dunia yang semula gelap, tanpa cahaya penerangan dari pengetahuan dapat sirna hanya dengan sinar benderang dari pengetahuan. Seperti itulah kira-kira dunia perempuan Indonesia pada masa sebelum pertengahan tahun 1800-an, perempuan hanya mengetehui bagaimana itu memasak dan mengurus anak dari rumah.
 
Memaknai Emansipasi Sebagai Estafet “Tongkat Kerja Keras”
 
Menghitung mundur dua abad silam, lahirlah The Greatest Hero dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah, yaitu Jepara. Beliau adalah Raden Ajeng (R.A.) Kartini, simbol kemerdekaan perempuan. Wanita pertama di Indonesia yang mampu berteriak dalam kesunyian dan kungkungan derajat sosial. Wanita pemberani yang mewakili suara hati sekaligus pemikiran dari segelitir perempuan yang memikirkan golongan feminis untuk keluar dari belenggu kegelapan yang kian mundur.  Beliau telah menciptakan sebuah “emansipasi” untuk perempuan tanah air agar dapat mengenal yang namanya “pendidikan”. 

Bergeser ke wilayah Jawa bagian barat, ada seorang pendidik dari tanah Priangan, Nyi Raden Dewi Sartika. Wanita dengan cahaya pengetahuan terpancar dari wajahnya. Sebagai guru, beliau telah memberikan transformasi dunia perempuan yang sebelumnya “rabun” literasi menjadi cakap mengeja huruf hingga menyuarakan pemikiran. Beliau sadar, perempuan medioker yang masih terpasung akan budaya dan adat untuk sekedar menjadi perempuan rumahan harus diperkenalkan oleh pendidikan. 

Tentunya, pemikiran-pemikiran tersebut harus lahir melalui lorong waktu yang silih berganti. Lahir oleh orang yang tepat agar dapat dieksekusi dengan baik sehingga mengantarkan perempuan Indonesia pada gerbang dunia pendidikan. Tidak mudah bagi dua tokoh perempuan nasional kita untuk memperjuangkan hak perempuan untuk dapat menimba ilmu melalui pendidikan dengan hadangan kolonial. Tetapi, semangat emansipasi membara seakan membakar diri pada beliau berdua.

Maka, menghitung maju dua abad ke depan, kita adalah generasi terpilih untuk dapat melanjutkan tongkat estafet “emansipasi”, yaitu warisan perjuangan hak-hak perempuan minimal diimplikasikan dengan bentuk memanfaatkan kesempatan meraih pendidikan setinggi mungkin dan menularkan semangat tersebut kepada perempuan-perempuan Indonesia lainnya.

Kelak, Jangan Terjebak “Comfort Zone” Pernikahan

Memiliki angka rata-rata usia yang cukup muda, Indonesia memiliki budaya “menikah muda” atau “menikah sesegera mungkin”. Meskipun kini tampak sebagian penduduk mulai kontra, namun realita masih terjadi. Penetapan batas usia menikah yaitu 18 tahun dalam UU (Undang-undang) Perlindungan Anak, ironisnya masih dijumpai pada berbagai headline media tanah air mengenai peristiwa pernikahan di bawah umur.  Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masih banyak perempuan Indonesia yang putus sekolah untuk menikah. 

Sumber: pixabay.com


Pernyataan tersebut didukung oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa sebanyak 94,72 persen anak menikah dini. Merujuk kemudian, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) Yohana Yambise pada tahun 2018 mengatakan, "Sebesar 94,72 persen perempuan usia 20-24 tahun berstatus pernah kawin di bawah saat usia di bawah 18 tahun dan tidak bersekolah lagi. Sementara yang melanjutkan sekolah hanya berkisar 5,28 persen,". Bayangkan, berapa banyak perempuan yang belum merasakan emansipasi yang telah diperjuangkan oleh pahlawan kita apabila pernikahan itu dilakukan secara paksa oleh pihak lain. Atau, sebagian dari mereka memilih enggan memaknai emansipasi akibat kemauan mereka sendiri.

Kendati demikian, menikah adalah sebuah tujuan mulia yang dapat dilaksankaan oleh dua sejoli yang telah memiliki kepercayaan dan rasa kasih sayang untuk dapat membentuk sebuah keluarga. Namun, alangkah baiknya pernikahan dilaksanakan apabila dilandasi dengan angka usia yang sesuai dan bekal pengetahuan yang memadai.  Terlebih, bagi seorang perempuan, melahirkan generasi cerdas bukan semata berkah dari Tuhan, melainkan ada campur tangan peran dari seorang perempuan yang bergantung pada pengetahuan yang dimilikinya.

Pun, ketika telah memasuki dunia pernikahan, perempuan dapat “terjebak” pada kenyamanan akibat dari peran istri yang cukup menerima nafkah dari kepala keluarga. Rasa “terjebak” itu ialah tidak ada lagi motivasi untuk menggali potensi diri atau mengimplikasikan estafet emansipasi perempuan, yaitu pendidikan dalam bentuk kontribusi terhadap lingkungan sekitar.

Kartini Masa Depan, Tak Ragu Mengembangkan Potensi Diri

Sudah ditakdirkan, bahwa kita adalah perempuan pemegang warisan estafet emansipasi perempuan selanjutnya. Kita telah merasakan atmosfer dimana kebebasan untuk mendapatkan gelar sarjana tak lagi susah. Kita telah hidup pada tanah dimana tempat belajar mudah terjamah. Kita telah berada pada fase dimana pendidikan dan perempuan telah saling bertemu dan beramah-tamah. Adakah yang perlu disanggah? Semua berakar dari satu, pendidikan dan disertai kemauan untuk mengembangkan diri.

Kini, tidak ada lagi keraguan untuk tidak menggali pontensi dalam diri, salah satunya adalah mengikuti bimbingan belajar atau kursus. Terutama perempuan di tengah kota metropolitan, dapat dengan mudah menikmati akses pendidikan semi formal seperti kursus, dengan lokasi terjangkau dan aman. Dengan adanya akses pendidikan yang mudah dan aman, anak-anak dan perempuan tidak perlu khawatir, terlebih bila dalam satu tempat sudah menyediakan beraneka ragam jenis kursus yang sesuai dengan potensi diri.

Sumber: educenter.id


Ialah EduCenter, sebuah gedung berkonsep Mal Edukasi yang menyediakan berbagai lembaga kursus dalam satu komplek pertama di Indonesia, kini dapat dinikmati oleh masyarakat Tangerang dan sekitarnya. EduCenter terletak di Jalan Sekolah Foresta Nomor 8, BSD City, Tangerang. Nilai plus dari lokasi EduCenter yang dikelilingi oleh 45 institusi pendidikan, sehingga bila sebagian dari Anda ingin bergegas menuju tempat kursus di EduCenter setelah pendidikan formal, tidak perlu pulang ke rumah.

EduCenter mengusung konsep “One Stop Excellence Of Education. EduCenter menyediakan berbagai macam tenant kursus untuk anak , remaja hingga dewasa. Mulai dari jenis Pre School, Balet dan Menari, Bahasa, Seni dan Musik, Matematika dan Sains hingga Akademi Penerbangan. Berbagai sarana pendukung seperti restoran, food court, taman bermainpun tersedia. Belajar nyaman, potensi kian berkembang. 

Mari mengimplikasikan pemikiran Raden Ajeng Kartini dan Nyi Raden Dewi Sartika dengan terus mengasah kemampuan dan potensi pada diri sendiri, menebar semangat meraih pendidikan tinggi dan berkontribusi pada masyarakat luas. Selama perempuan bersentajakan pengetahuan berpijak, disitulah nyala api emansipasi terus bergerak. Dan, negeri ini tidak akan pernah kehabisan generasi cerdas nan aktif bersorak.

#Educenterid
#HariPendidikan
#HariKartini
 #Perempuan

Referensi :



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar