Rabu, 29 Maret 2017

(LIBURAN HEMAT) PARIWISATA LERENG MERBABU YANG KIAN MELAMBAI : KRAGILAN, OPSI DESTINASI SETELAH KETEP PASS

Rahajeng Nyanggra Rahina Suci Nyepi Caka 1939

Sebelum saya memulai ulasan mengenai pengalaman liburan kemarin, ijinkan saya mengucapkan SELAMAT HARI RAYA NYEPI BAGI UMAT HINDU DI SELURUH INDONESIA.
Momentum liburan selalu dimanfaatkan orang-orang untuk bersantai dan berkumpul bersama kerabat dekat. Berkunjung ke berbagai tempat dengan bersama-sama adalah suatu hal yang memang seharusnya dilakukan. Namun, terkadang keinginan mewujudkan momentum tersebut terganjal dengan kondisi finansial di akhir bulan, terutama bagi kita yang karyawan dengan gaji standar. Alhasil, “travel budget” pun hanyalah sisa setelah kebutuhan primer dan mendesak lainnya yang tidak seberapa. Padahal, hiburan (baca:rekreasi) itu sangat penting karena bermanfaat bagi psikologis manusia (www.turez.id). Adakah destinasi wisata dengan yang ramah saat kanker (kantong kering)?

HUTAN PINUS

Berbicara mengenai wisata alam di Kabupaten Magelang, terlintas di benak pertama adalah Ketep Pass, yang menyuguhkan spot view beberapa gunung sekaligus, yakni diantaranya Merapi, Merbabu, Sumbing dan beberapa gunung lainnya dari kejauhan.  Namun, adalagi destinasi wisata yang tengah viral di media sosial. Adalah wisata hutan pinus Kragilan, yang terletak di kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, sekitar 5 km dari Ketep Pass. Melalui sedikit wawancara dengan salah seorang wanita paruh baya yang menggelar lapak di area wisata, wisata ini tengah menjadi viral sekitar 2 tahun yang lalu, tepatnya 2015. Bermula dari “tempat kencan anak-anak muda” kemudian tersiar dari mulut-kemulut, maka boominglah kawasan ini dengan tujuan utama adalah “SELFIE”.
Kenapa ramah untuk kondisi saat kanker? Karena tarif memasuki kawasan ini hanya Rp 3000.00 dan silahkan menikmati area hutan pinus yang cukup luas. Rimbunan pohon-pohon tinggi menjulang mampu menyelimuti suasana menjadi sejuk padahal sinar matahari tengah menyengat kulit. Pemandangan dari ketinggian 1000 mdpl ini rupanya membius saya untuk berlama-lama menikmati view ala lereng merbabu ini. Kepolosan anak-anak kecil yang membantu orang tua mereka berjualan adalah suatu scene yang cukup membuatku tersenyum haru. Sejuk. Sangat sejuk. Jauh dari kebisingan mesin dan kendaraaan. Jauh dari segala hiruk pikuk metropolitan. Pemandangan khas lereng si gunung tambun Merbabu ini sangat eksotis. Seeksotis kulit kayu dari pohon hutan pinus. 
Merujuk informasi dari salah satu kompasianer yang telah mengulas sebelumnya dari Aryanto Wijaya, kawasan wisata telah dikelola oleh POKDARWIS setempat. Kini anda bisa menjumpai fasilitas yang “dibuka dadakan” oleh penduduk sekitar yang mengais rejeki dari para pengunjung. Mulai dari beberapa spot yang unik hingga properti untuk selfie. MCK hingga speaker untuk antisipasi terpisahnya anggota rombongan juga tersedia. Sempat saya melihat mobil polisi berpatroli dan menimbulkan hipotesa untuk memantau kestabilan situasi. Berikutut hasil jepretan ala-ala amatir yang saya curi ditengah kepadatan pengunjung kemarin.
Dan harga dagangan yang dijual pun tidak “membunuh” atau istilah lainnya dijual melebihi batas kewajaran. Silahkan untuk membeli berbagai cemilan atau makan siang. Dengan begitu kita turut berkontribusi membangun perekonomian dari pinggiran. Dan juga membuat garis lengkung ke bawah dari bibir-bibir bocah-bocah kecil yang tengah berjuang mengais rejeki.

MASUKAN UNTUK PEMKAB MAGELANG

Dengan adanya hidden paradise seperti kawasan hutan pinus ini, sudah saatnya pemerintah sadar bahwa inilah momen untuk mencegah urbanisasi dan membumikan kawasan terpecil. melalui pariwisata (tentu dengan pengelolaan yang baik) tercipta kegiatan perekonomian yang akan membuat penduduk setempat (barangkali juga berlaku bagi kawasan yang bernasib sama) berpikir ulang untuk ke kota.
Lalu apa yang sedikit saya sayangkan?
Pertama, minimnya rambu-rambu atensi bagi pengendara. Sejauh pengamatan saya, belum ada simbol jalan rusak, kawasan rawan longsor, jembatan yang hanya khusus roda dua, dan lain sebagainya. Perlu juga didirikan pos siaga hingga call center. Sehingga, saat pengunjung berada di posisi jauh dari jangkauan pihak keamanan, dapat langsung menghubungi call center. Hal itu sangat penting karena menyangkut nyawa manusia. Apalagi saat pengunjung ramai seperti saat itu, duh!
Yang kedua, berkaitan dengan akses jalan menuju kawasan ini memang cukup menguji adrenalin. Banyak jalan beraspal yang berlubang karena akses penambangan dan wisata masih menjadi satu. Antrian kendaraan mengular mengikuti jalan pegunungan yang meliuk-liuk hanya karena separuh badan jalan rusak. Dan itu terjadi di bebapa titik. Tidak terbayang kan menahan kendaraan saat berada pada posisi di jalan yang sangat menurun atau bahkan hampir cekung? Apalagi berhadapan dengan truk-truk besar.
Maka, bagi anda yang akan berwisata kemari, berhati-hatilah dan cek mesin kendaraan anda. Jangan lupa untuk berdoa sebelum berkedara. Semoga akses jalan segera diperbaiki. Maju terus pariwisata Indonesia.


SALAM HANGAT KOMPASIANA