Senin, 06 November 2017

(WISATA) Bukti Karya Adiningrat : Loyalitas dan Berproses

Pak Ripto, seorang pengrajin batik Jogja (Dok. Pribadi)
Jogja, selalu ada kekhasan untuk kota yang istimewa ini. istimewa orangnya, istimewa tempatnya istimewa karyanya. Saya menyebut segala barang dari jojga bukan "barang dari jogja" tetapi karya dari jogja. Kenapa? Pembaca kompasiana tentu tak meragukan lagi segala filosofi yang ada di jogja. Rakyat yang begitu loyal dengan raja dan tanah ningrat ini, mereka begitu kuat mempertahankan Yogyakarta sebagai daera istimewa yang berbeda dari kota-kota di Indonesia. Mereka mempertahankan jojgja dengan terus  menghasilkan karya asli dari tanah ini.
Dan salah satu karya dari tanah ningrat ini yang wajib bagi dikunjungi, dibeli dan dimiliki adalah batik. Tentu kebingungan melanda anda ketika ingin berbelanja batik yang "benar-benar" batik. Asli dan hasil goresan terbaik dari tanah ningrat ini. silahkan simak pengalaman saya bersama rekan Kompasiana Jojga alias KJOG. Berikut ini. barangkali bisa menjadi rekomendasi untuk anda!
Temukan Kekhasan Batik di Malioboro
Ketika wacana maraknya usaha ritel menutup outletnya karena pergeseran digital marketing, tidak akan berlaku untuk wilayah Malioboro. Malioboro itu tempat yang lebih dari sekedar wajib hukumnya bagi pengunjung kota Jogja. Hal tersebut juga tak akan berlaku bagi industry batik. Bagaimana bisa batik dibeli secara online? Bagi kaum yang awam mungkin bisa saja. Tapi yang paham akan filosofi batik  dan menginginkan yang terbaik tentu tidak akan main-main. Digital marketing bagi batik sebagai promosi, untuk proses transaksi saya sarankan datanglah ke butiknya. Sentuh,raba dan rasakan. Bila perlu, mintalah penjelasan dari pegawai butiknya.
Salah satu butik yang saya kunjungi adalah butik batik Adiningrat. Seperti namanya secara harfiah, adi yang berarti unggul dan ningrat yang artinya bangsawan, butik ini menyajikan kain batik kualitas tinggi. Motifnya yang dihasilkan merupakan "goresan terbaik" dari pengarajin batik dengan loyalitas tinggi. Proses yang dilalui pun panjang nan penuh makna. Tentu dengan kehati-hatian. Dan akhirnya, menghasilkan sajian batik yang dapat anda nikmati di setiap pajangan di butik Adiningrat.
Butik Batik Adiningrat
Pertama kali saya berkunjung di butik adiningrat, saya langsung disambut jajaran busana batik dari batik Adiningrat. Sama seperti kebanyakan orang yang belum sepenuhnya mengerti akan batik. Pertanyaan di benak saya : "Bagaimana membedakan batik-batik ini?". Pertanyaan saya langsung terjawab karena dengan ramah, pegawai butik sekaligus manajer marketing, Ibu Dewi dengan senang hati menjelaskan.


Butik Batik Adiningrat (Dok. Pribadi)
Menurut cara pembuatannya, batik digolongkan menjadi batik tulis, batik cap dan batik printing. Urutan tersebut juga sekaligus dikategorikan dari tingginya harga. Kain yang digunakan pun bermacam-macam. Mulai dari sutra, polyster dan lain sebagainya. Pewarna yang digunakan ada yang alami dan sintetis alias buatan.
Di lantai satu, butik ini menyajikan batik cap dan printing dengan model busana khusus wanita. Sedangkan lantai 2, menyajikan batik tulis berbahan sutra dan model busanan khusus pria. Menurut informasi, bulan Desember akan ada big sale, dengan diskon hingga 70%. Dan catatan, produk yang didiskon bukan produk cacat. Butik Batik Adiningrat mengganti karyanya setiap  6 bulan sekali. Dengan begitu, motif yang sudah terjual tidak akan diproduksi lagi. Fresh!!
Batik Tulis Jahe Selawe
Ibu Dewi segera mengajak rombongan kami untuk dapat melihat lebih jauh proses pembuatan batik Adiningrat. Beliau akan menjelaskan bagaimana awal batik dibuat dan serangkaian prosesnya. Sesaat melewati lantai satu, untuk menuju halaman depan, ada  jajaran busana batik dengan satu motif batik tulis yang cukup mencolok dibanding yang lain dan seperti "diistimewakan".
Jahe Selawe, adalah motif andalah Adiningrat. Secara sekilas saya membaca filosofi penamaan Jahe Selawe. Motif ini mempunyai ruas-ruas yang melengkung, menggambarkan karakter kuat dan terus mengalir. Terinspirasi dari jahe merupakan tumbuhan khas nusantara yang menjadi sumber pengetahuan dan juga sebagai obat tradisional. Selawe, adalah angka 25 yang penyebutannya berbeda dalam bahasa jawa. Angka 25 juga menggambarkan kematangan dan produktif.


Beragam Busana Motif Batik Jahe Selawe (Dok. Pribadi)
Untuk setiap warna, juga memiliki makna tersendiri. Warna tanahan yang menggambarkan batik yang terlahir di bumi Yogyakarta. Lalu warna sogan coklat yang artinya kerendahan hati dan membumi. BIru dongker sebagai symbol ikhlas dan setia. Dan terakhir, kuning kunyit yang artinya ketenangan jiwa. Jahe selawe memberikan semangat alam beraktivitas.
Rumah Produksi Pertiwi
Terletak di daerah Giwangan, Yogyakarta. Sebenarnya, ada beberapa lokasi lagi tempat produksi, namun ini adalah induk dari rumah-rumah produksi yang ada. Kenapa dinamakan Pertiwi? Ibu Hj. Siti Umi Pertiwi. Beliau telah berkecimpung dengan batik sejak tahun 65-an. Dulu, belaiu adalah juragan kain batik, yang sering menyediakan kain batik hingga akhirnya mendirikan produksi sendiri. Dari tempat inilah lahir karya batik Adiningrat. Loyalitas dan proses Adiningrat itu akan saya jabarkan disini. Tepatnya,  untuk tahapan batik tulis.
Berproses
Proses batik yang pertama adalah penggambaran motif dengan pensil diatas kain. satu kain harus terisi penuh motif dan membutuhkan kreativitas tinggi.
Kedua, nglowongi atau batik itu sendiri. Dilengkapi peralatan cating, malam, kain, alat pemanas serta skillSkill tidak diukur secara instan. Pembatik yang diakui adalah yang memiliki jam terbang tinggi yang diukur oleh waktu. Salah satu pembatik, ibu Menik sudah tampak lihat dalam menggoreskan catingnya mengikuti alur pola batik yang begitu melengkung, meliuk dan sangat detail. Bisa dikatkan rumit. Cating harus tertempel sempurna pada kain. Tidak boleh luber, lumer bahkan sampai tumpah di luar pola. Cating itu sendiri ada berbagai ukuran lho!
Ibu Menik dan Pengrajin Batik Lainnya Sedang Membatik (Dok. Pribadi) 
Tahap ketiga adalah pewarnaan. Namun, sebelum ke perwarnaan, kami lebih dahulu singgah ke proses pengecapan, yaitu tahapan pertama proses batik cap. kami bertemu dengan Bapak Ripto. Beliau begitu jeli. Karena mengecap batik itu tidak sembarangan orang bisa. Ketelitian menyambungkan motif yang putus  dengan cetakan yang sama butuh perhitungan agar menjadi motif yang benar-benar utuh.
Tahap pewarnaan batik ternyata ada dua, celup dan colet (kalau saya menamainya tutul, karena seperti pakai kapas terus ditutul-tutulkan hehehe). Teknik colet itu kalau warnanya banyak, kecil-kecil dan polanya berkesinambungan.
Inilah Proses Pewarnaan Kain Batik (Dok. Pribadi) 
Tahap keempat adalah perebusan. Namun, sebelum direbus terlebih dahulu malam (lilin) dilepaskan. Mengapa dibersihkan? Karena malam (lilin) tidak tahan panas. Nanti akan meleleh dan justru memberi meleburkan warna.
Setelah direbus, barulah kain batik dijemur. Bila warna yang digunakan banyak, misalnya lebih dari satu,maka akan kembali ke proses pembatikan lagi. Begitu seterusnya. Jadi, semakin kompleks dan rumit motif batik tulis, bahkan banyak warna, tidak heran batik itu bernilai jual tinggi. Banyak unsur yang tertuang. Karena batik itu seni. Batik itu skill. Batik itu proses. Batik itu loyalitas.


Tahap Perebusan (Dok. Pribadi)
Loyalitas
Ibu Menik, Bapak Ripto dan lainnya rupanya telah menggeluti profesi sebagai pengrajin batik sejak belum menikah (menurut Ibu Dewi bahkan ada yang waktu itu masih lajang) hingga punya anak. Bayangkan, sudah berpuluh-puluh tahun mereka menekuni dan sangat setia degan batik. Mereka mengabdi melalui Rumah Produksi Pertiwi. Ibu Pertiwi yang juga sosok hangat, mampu meyakinkan kepada siapa saja bahwa batik itu sebuah karya. Karya yang lahir dari tangan manusia-manusia yang dihasilkan oleh loyalitas dan proses yang panjang.
Bagi kompasianer yang berminat belajr batik, Rumah Produksi Pertiwi menawarkan Workshop Batik terjangkau. Rumah Produksi ini sering menerima kunjungan asing, bahkan tamu kenegaraan. Silahkan.
Semoga bermanfaat~
(Tulisan Telah Terbit di Akun Kompasiana pada Sabtu, 4 November 2017)



Jumat, 21 April 2017

Greeting


Dear Visitors, 
Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya,
Perkenalkan,
Saya Devi Meilana Trisnawati, biasa dipanggil Mei, tapi mulai menginjak bangku kuliah terbiasa dipanggil Mei. Saya lahir 29 Mei 1995. Saya termasuk penggemar Westlife sejak kecil. Lagu yang paling saya sukai adalah You Make Me Feel dan I Have a Dream.
Saya tipikal pembelajar, jadi jangan segan untuk leave comment di blog saya karena akan sangat berguna bagi saya dan anda juga tentunya. 
Blog ini lebih mengarah ke sharing tentang pengelolaan keuangan dan juga beberapa rekomendasi produk keuangan, tips serta hal-hal yang bermanfaat untuk pengelolaan keuangan anda. Terimakasih,
Enjoy articles. 





FACIAL TREATMENT HEMAT ALA NAAVAGREEN (KOMEDO BERKURANG)


Ladies, kali ini saya mau review sebuah treatment facial yang pas di saku saat posisi keuanganmu berada dalam situasi mepet. Yes, Naavagreen yang cabangnya ini udah tersebar dimana-mana ini rupanya cukup recommended buat kamu yang mau buat clearance muka kamu yang udah ngerasa lengket, kotor dan pengen banget cepet-cepet dibersihin. So, it’s time to treat yours!
Naavagreen udah gag asing kali ya ditelinga teman-teman yang udah biasa banget looking up tempat-tempat yang nyaman buat manjain wajah atau tubuh dan sesuai dengan budget kita (of course, disini juga pasti banyak yang masih pelajar atau mahasiswa). Naavagreen ini menawarkan image perawatan yang menggunakan bahan-bahan alami yang menyatu dengan alam (harmoni). Saya sendiri udah jadi member facial treatment Naavagreen selama setahun, dan memang belum pernah nge-review. Karna saya sedang building blog, dan mulai ngeshare pengalaman dan cerita kepada teman-teman semua, barulah kali ini saya bisa berkesempatan untuk review.

Minggu kemarin, saya berasa pengen banget menikmati treatment wajah agar bisa fresh dan seger lagi. Dan saya memutuskan buat visit ke Naavagreen di salah satu cabangnya di Jogja. Langsung deh chus ambil antrian dan waiting buat dipanggil.

Suasana Ruang Tunggu 
Sumber: Dok. Pribadi

Oh iya, Naavagreen buka setiap Senin s.d. Sabtu dari 9 pagi sampai 6 sore dan khusus di hari Minggu sampai dengan jam 4 sore. Ruang tunggunya juga nyaman ada berbagai macam suguhan bacaan tentang perawatan kulit dan sedikit informasi mengenai event-event yang Naavagreen telah lakukan. Sistem antriannya juga lancar dan tertib.
Customer Service
Sumber: Dok. Pribadi

Panggilan pertama, tibalah giliranku untuk konsultasi ke dokter dulu (visit buat konsul doang juga bisa). Dan memang, jenis kulit saya adalah normal kering. Saya langsung disarankan pake treatment brightening facial serum (facial untuk pencerahan) karna muka saya yang omoooooo (oh my god dalam bahasa korea) memang buanyak banget komedonyaaa.

And next, langsung beberapa menit panggilan kedua untuk siap melakukan treatment dengan capster yang sangat ramah. Sekedar informasi di awal sebelum story tentang step-step treatmentnya, Naava menawarkan beberapa facial treatment yang berhasil aku dapat infonya sambil interview sama Mbak Capster saat facial, hihi plus dari brosur yang tersedia di meja tunggu.

Ada dua jenis facial yang ditawarkan oleh Naava. Natural Skin Facial dan Serum Facial. secara umum, step-step yang diberikan sama. Perbedaannya hanya terletak pada step akhir. Untuk Natural Skin Facial, akan diberikan masker wajah dan Serum Facial akan dioleskan serum sesuai dengan jenis kulit. Serum tersebut terbagi dalam Anti Aging Serum (untuk peremajaan), Acne Serum (menghilangkan jerawat dan kulit berminyak), Brightening Serum (untuk melembabkan sekaligus mencerahkan) dan Sensitive Serum (solusi kulit sensitif).

Harganya yang ditawarkanpun juga berbeda. Untuk Natural Skin Facial dapat kalian dapatkan dengan Rp 40.000, 00 dan Serum Facial diharga 65.000,00.
Nah, masuk ke treatment, setelah memakai kemben langsung mbak capsternya melakukan aksinya. Durasi facial treatment rata-rata adalah 1 jam yang saya estimasi sendiri terbagi dalam beberapa step yaitu:

1. Step 1 (Clearance atau pembersihan)  kurang lebih 10 menit.
Wajah kita akan dibersihkan dengan kapas yang telah diolesi pembersih dan toner sebagai sentuhan awal treatment.

2. Step 2 (Massage atau pemijatan) kurang lebih 15 menit.
Pemijatan disini berfungsi untuk merelaksasi kulit agar kulit lebih siap saat prosesi selanjutnya, yaitu ekstraksi komedo. Pori-pori kulit wajah akan terbuka dan sangat sensitif.

3. Step 3 (Ekstraksi Komedo) kurang lebih 20 menit.
Proses pembukaan pori-pori wajah dan pengangkatan komedo yang membuat kulit menjadi gelap. Step ini adalah step paling lama karena butuh ketelitian dan akan dilakukan hingga wajah benar-benar bersih.

      4. Step 4 (Pemberian Serum) atau Masker kurang lebih 10 menit.
Kulit wajah akan diolesi serum sesuai dengan jenis kulit. Kalau saya adalah serum pencerah karena tipe wajahku yang kering dan agak gelap.

Prosesi Treatment
Sumber: Dok. Pribadi

5. Step 5 (Pemberian Anti Iritasi) kurang lebih 5 menit.
Nah, step terakhir ini berfungsi untuk mencegah reaksi yang ditimbulkan dari aktivitas treatment ini. Sejauh ini wajah saya tidak terjadi reaksi yang negatif dan masih mulus.

Saat di step 3, duh berasa kayak ditusuk jarum deh girls! Haha. Ekstraksi komedo ini menjadi sakit banget dan lama kalau komedo di wajah kamu banyak dan terselip. Oh iya, bila kamu prefer regular facial, bedanya hanya di step 4 nih, sebagai gantinya kamu akan diberi masker untuk mengangkat kotoran di wajah.


After Treatment
Sumber : Dok. Pribadi

Dan taraaaaa,,, akhirnya wajahku menjadi seperti bersih kembali. Komedo-komedo sudah berkurang. Di bagian hidung bahkan udah sama sekali gag kelihatan. Kulitku juga serasa kenceng dan pokoknya recommended banget untuk ukuran active girl macam kita ini yang seharian dan dari minggu ke minggu mindfull juga sering banget di outdoor. Aaaah, powernya serasa balik lagi.

Sekedar tips, jangan lupa girls, kasih jeda waktu minimal 2 minggu buat facial. Sebulan sekali juga lebih baik mengingat kita juga mengalokasikan finansial untuk kebutuhan lain yang gag kalah penting. Kuncinya sih rutin yaaa!
See yaa buat next sharing J











Rabu, 29 Maret 2017

(LIBURAN HEMAT) PARIWISATA LERENG MERBABU YANG KIAN MELAMBAI : KRAGILAN, OPSI DESTINASI SETELAH KETEP PASS

Rahajeng Nyanggra Rahina Suci Nyepi Caka 1939

Sebelum saya memulai ulasan mengenai pengalaman liburan kemarin, ijinkan saya mengucapkan SELAMAT HARI RAYA NYEPI BAGI UMAT HINDU DI SELURUH INDONESIA.
Momentum liburan selalu dimanfaatkan orang-orang untuk bersantai dan berkumpul bersama kerabat dekat. Berkunjung ke berbagai tempat dengan bersama-sama adalah suatu hal yang memang seharusnya dilakukan. Namun, terkadang keinginan mewujudkan momentum tersebut terganjal dengan kondisi finansial di akhir bulan, terutama bagi kita yang karyawan dengan gaji standar. Alhasil, “travel budget” pun hanyalah sisa setelah kebutuhan primer dan mendesak lainnya yang tidak seberapa. Padahal, hiburan (baca:rekreasi) itu sangat penting karena bermanfaat bagi psikologis manusia (www.turez.id). Adakah destinasi wisata dengan yang ramah saat kanker (kantong kering)?

HUTAN PINUS

Berbicara mengenai wisata alam di Kabupaten Magelang, terlintas di benak pertama adalah Ketep Pass, yang menyuguhkan spot view beberapa gunung sekaligus, yakni diantaranya Merapi, Merbabu, Sumbing dan beberapa gunung lainnya dari kejauhan.  Namun, adalagi destinasi wisata yang tengah viral di media sosial. Adalah wisata hutan pinus Kragilan, yang terletak di kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, sekitar 5 km dari Ketep Pass. Melalui sedikit wawancara dengan salah seorang wanita paruh baya yang menggelar lapak di area wisata, wisata ini tengah menjadi viral sekitar 2 tahun yang lalu, tepatnya 2015. Bermula dari “tempat kencan anak-anak muda” kemudian tersiar dari mulut-kemulut, maka boominglah kawasan ini dengan tujuan utama adalah “SELFIE”.
Kenapa ramah untuk kondisi saat kanker? Karena tarif memasuki kawasan ini hanya Rp 3000.00 dan silahkan menikmati area hutan pinus yang cukup luas. Rimbunan pohon-pohon tinggi menjulang mampu menyelimuti suasana menjadi sejuk padahal sinar matahari tengah menyengat kulit. Pemandangan dari ketinggian 1000 mdpl ini rupanya membius saya untuk berlama-lama menikmati view ala lereng merbabu ini. Kepolosan anak-anak kecil yang membantu orang tua mereka berjualan adalah suatu scene yang cukup membuatku tersenyum haru. Sejuk. Sangat sejuk. Jauh dari kebisingan mesin dan kendaraaan. Jauh dari segala hiruk pikuk metropolitan. Pemandangan khas lereng si gunung tambun Merbabu ini sangat eksotis. Seeksotis kulit kayu dari pohon hutan pinus. 
Merujuk informasi dari salah satu kompasianer yang telah mengulas sebelumnya dari Aryanto Wijaya, kawasan wisata telah dikelola oleh POKDARWIS setempat. Kini anda bisa menjumpai fasilitas yang “dibuka dadakan” oleh penduduk sekitar yang mengais rejeki dari para pengunjung. Mulai dari beberapa spot yang unik hingga properti untuk selfie. MCK hingga speaker untuk antisipasi terpisahnya anggota rombongan juga tersedia. Sempat saya melihat mobil polisi berpatroli dan menimbulkan hipotesa untuk memantau kestabilan situasi. Berikutut hasil jepretan ala-ala amatir yang saya curi ditengah kepadatan pengunjung kemarin.
Dan harga dagangan yang dijual pun tidak “membunuh” atau istilah lainnya dijual melebihi batas kewajaran. Silahkan untuk membeli berbagai cemilan atau makan siang. Dengan begitu kita turut berkontribusi membangun perekonomian dari pinggiran. Dan juga membuat garis lengkung ke bawah dari bibir-bibir bocah-bocah kecil yang tengah berjuang mengais rejeki.

MASUKAN UNTUK PEMKAB MAGELANG

Dengan adanya hidden paradise seperti kawasan hutan pinus ini, sudah saatnya pemerintah sadar bahwa inilah momen untuk mencegah urbanisasi dan membumikan kawasan terpecil. melalui pariwisata (tentu dengan pengelolaan yang baik) tercipta kegiatan perekonomian yang akan membuat penduduk setempat (barangkali juga berlaku bagi kawasan yang bernasib sama) berpikir ulang untuk ke kota.
Lalu apa yang sedikit saya sayangkan?
Pertama, minimnya rambu-rambu atensi bagi pengendara. Sejauh pengamatan saya, belum ada simbol jalan rusak, kawasan rawan longsor, jembatan yang hanya khusus roda dua, dan lain sebagainya. Perlu juga didirikan pos siaga hingga call center. Sehingga, saat pengunjung berada di posisi jauh dari jangkauan pihak keamanan, dapat langsung menghubungi call center. Hal itu sangat penting karena menyangkut nyawa manusia. Apalagi saat pengunjung ramai seperti saat itu, duh!
Yang kedua, berkaitan dengan akses jalan menuju kawasan ini memang cukup menguji adrenalin. Banyak jalan beraspal yang berlubang karena akses penambangan dan wisata masih menjadi satu. Antrian kendaraan mengular mengikuti jalan pegunungan yang meliuk-liuk hanya karena separuh badan jalan rusak. Dan itu terjadi di bebapa titik. Tidak terbayang kan menahan kendaraan saat berada pada posisi di jalan yang sangat menurun atau bahkan hampir cekung? Apalagi berhadapan dengan truk-truk besar.
Maka, bagi anda yang akan berwisata kemari, berhati-hatilah dan cek mesin kendaraan anda. Jangan lupa untuk berdoa sebelum berkedara. Semoga akses jalan segera diperbaiki. Maju terus pariwisata Indonesia.


SALAM HANGAT KOMPASIANA